Tuesday, June 28, 2011

Kepulauan Seribu, Dangerously Beautiful!

Akhirnya keinginan saya untuk menyambangi pulau seribu tercapai juga! Yap, 26-27 Juni 2011 kemarin bersama teman-teman SMA saya menjadikan Pulau Bira Besar sebagai pulau utama tujuan kami. H-1 saya baru tau kalau perjalanan kami ke Pulau Bira Besar akan memakan waktu 3-4 jam dengan menggunakan kapal dan setelah saya cek jarak Muara Angke-Pulau Bira sekitar 100km. WOW!


#Day1

Berangkat dari Muara Angke pukul 07.00wib dengan menggunakan kapal muatan (bukan speedboat) tarifnya Rp.35.000/orang. Sejak di kapal, ternyata drama perjalanan 12 orang mahasiswa tingkat akhir-pasca-sidang-gila-liburan pun sudah dimulai. Beberapa dari kami memang baru pertama kalinya naik kapal, kalopun sudah pernah (spt saya ini) terakhir naik adalah sekitar 15 tahun lalu (jaman SD). Sebagai seseorang yang hidupdi daratan selama 22th dan paling mentok naik transportasi air adalah bebek-bebekan, naik kapal laut selama 4 jam itu sesuatu hal yang dramatis. Walhasil 5 dari 12 orang (termasuk saya) mengalami yang namanya sea sick-mabok laut. Seumur hidup baru kali ini saya mabok transportasi sampai muntah. Sungguh menyiksa. Sampai-sampai terbersit dipikiran teman saya mau ngetok bagian atas perahu, "tok,tok kiri bang" (berasa di angkot), nyemplung terus berenang balik ke Muara Angke. Hal yang paling membuat kami berpikir bahwa mabok laut saat itu adalah wajar adalah karena seseorang pak RT dari Pulau Kelapa-yang lahir, tinggal dan hidup di laut (kebetulan sempat ngobrol-ngobrol dengan salah satu penumpang yang ternyata adalah RT Pulau Kelapa) pun muntah setelah makan,nah loh! ternyata memang saat itu sedang angin barat (kalo ga salah) jadi ombaknya kurang santai lah.



Sunrise dan aktifitas Muara Angke sebelum keberangkatan
Karena tidak ada kapal muatan yang langsung ke Bira Besar, maka kami transit Pulau Kelapa. Sampai disana sekitar pukul 11.00wib.Ternyata Pulau Kelapa memiliki cukup banyak penduduk dan suasana tempat tinggal (bagian dalamnya) seperti rumah-rumah di Jakarta dengan jalan yang sempit (lebar jalan cukup untuk 2 motor), bedanya adalah halaman belakang mereka dihiasi lautan yang jernih plus pasir putih yang indah, pagi hari pun yang terdengar saat membuka jendela adalah suara ombak. Hhh..tentramnya..

Halaman belakang ciptaan Tuhan
Transportasi mereka adalah becak, motor dan sepeda. Dari pengamatan saya, mereka lebih senang menggunakan motor. Oia disana juga ada Madrasah, saya juga sempat lihat yang sepertinya Taman Kanak-kanak.


 Sampai di Bira sekitar pukul 12.00wib. Begitu menginjakkan kaki di dermaga, SUBHANALLAH! pasir putih, laut bening sampai terumbu karang ikan warna-warni,bulu babi bahkan cumi-cumi yang lagi berenang bisa dilihat dari atas dermaga.


dari atas dermaga


Cottege 2 kamar dengan 5 tempat tidur double bed dan 2 kamar mandi









Dari Pulau Bintang kami ke tempat snorkeling lain (lupa namanya) dan itu pun tak kalah indah. Beruntung kami dapat tour guide asli orang Pulau Seribu yang dari lahir udah dilaut.haha. Hampir semua spot sudah pernah diselami, ga cuma snorkeling tapi juga diving (mantap banget tuh mas-mas), jadi dia benar-benar tahu mana spot yang bagus, mana yang paling bagus.Mana yang buat amatir mana yang buat pro.Mana yang bahaya dan mana yang aman. Sampe tau mana laut yang paling dalam, banyak ombak dan laut yang adem ayem.Yang paling mengesankan dia bisa berkapal saat gelap tanpa lampu loh! Navigasinya cuma feeling.DEWA!.



Ki-ka: Mas Rahmat-Sang Anak Pulau dan Fajrie-Sang Koordiantor :D
Setelah melihat 3 spot, terakhir kami dibawa ke pulau Dolphin. Pulau kecil tak berpenghuni, dengan pasir putih yang lembut. Setelah itu, kami kembali ke Pulau Bira Besar,sayangnya saat itu cuaca mendung jadi kami tidak melihat sunset. Namun, sebagai gantinya kami melihat beberapa lumba-lumba di dekat pulau Bira.Hihiww ^o^
Pulau Dolphin, pulau kecil tanpa penghuni



Konyol-konyolan maen sambit pasir

Malam di Bira Besar benar-benar gelap pekat. Penerangan cuma ada di sekitar cottege kami, itupun temaram. Jalan menuju dermaga, bahkan di dermaga pun tidak ada lampu. Benar-benar gelap total. Kebetulan saat itu mendung, jadi tidak ada cahaya bulan. Baru kali ini saya merasakan kegelapan yang sangat pekat. Tapi kami tetap nekat main kembang api di dermaga.haha. Untungnya saya sempat ngecek langit dan melihat bintang-bintang yang w.o.w,  sebelum akhirnya langit menjadi hitam kelam. Sangat kontras dengan Jakarta yang penuh polusi cahaya.


#Day2

Karena cuaca mendung, jadi kami tidak berkesempatan melihat matahari terbit Bira. Akhirnya kami jalan-jalan sebentar melihat sisi lain pulau. Di sisi lain pulau Bira banyak jejak-jejak peninggalan masa kejayaan Bira dulu (lebay). Yap, dari info yang saya dapat dulunya Pulau Bira Besar merupakan pulau yang memiliki fasilitas cukup lengkap ada kolam renang, lapangan golf dengan 9 hole, cottege-cottege yang memadai. Namun entah mengapa kini hanya beberapa cottege saja yang masih layak pakai, fasilitas lainnya sudah terbengkalai bahkan beberapa sisi pulau ada yang rusak. Tapi itu semua tidak mengurangi keindahan alamnya. Tempatnya yang sunyi dan masih asri benar-benar cocok buat orang Jakarta yang udah muak dengan hiruk-pikuk serta polusi disekitarnya.
Jalan menuju bagian pulau yang telah terbengkalai



























 

Setelah sarapan, lanjut snorkeling-an lagi. Kali ini kami mengunjungi 2 spot. Bira kecil dan... (lagi-lagi saya lupa namanya.hehe). Di hari kedua ini waktu kami cuma sekitar 2 jam, karena kami mengejar kapal pulang pk.13.00wib. Walaupun terkesan hanya sebentar tap pada kenyataannya waktu 2 jam itu terasa lamaaa sekali. Udah puas loh snorkeling sejam juga.

Sekitar pukul 10.30wib kami sampai di Bira Besar untuk mandi,beres-beres, makan siang kemudian ke Pulau Pramuka untuk naik kapal yang ke Muara Angke. Emang dasar rombongan bahlul, kami menyepelekan waktu keberengkatan kapal. Disuruh ngumpul dan berangkat dari Bira max setengah dua belas, baru rapi dan benar-benar berangkat jam dua belas lewat. Padahal jarak Bira Besar-Pualu Pramuka memakan waktu 1 jam dalam kondisi normal.Unfortunately, anginnya cukup kencang jadi kapal harus muter-muter jalannya-menghindari ombak besar. Udah telat,berangin pula.Hore. Walhasil kami sampai di Pulau Pramuka pk.14.15wib (satu jam lebih kama dari perkiraan). Kapal angkut sudah lenyap.ha ha ha..(nyengir kuda). Pilihannya adalah bermalam di Pramuka atau naik kapal seadanya. Karena beberapa orang dari rombongan ada yang berkepentingan keesokan harinya, jadi kami memutuskan untuk naik kapal kecil. Dengan tarif Rp.500.000/kapal. Perkiraan perjalanan adalah 4-5 jam :hammer:

Sungguh perjalanan dari Pulau Pramuka-Muara Angke dengan kapal kecil benar-benar pengalaman yang sangat mengesankan. Angin, ombak, cipratan air, seperti main kora-kora+arung jeram sekaligus dalam waktu 6 jam! Yap, karena kondisi cuaca yang menurut ( kami orang darat) cukup ektrem maka kami bari menapakkan kaki di darat setelah 6,5 jam perjalanan laut. Total kami di laut untuk hari itu adalah 8,5 jam. Ibarat mudik lebaran Depok-Jawa Tengah dengan menggunakan kapal.What a day! Benar-benar salut dengan para nalayan dan pelaut lainnya yang mampu menyusuri lautan dan terjangan ombak bahkan sampai berbulan-bulan.

Benar-benar wisata bahari yang sulit dilupakan. Semoga lain waktu saya bisa kembali ke Pulau Seribu, menggali cerita kehidupan warganya, menapaki pasir putihnya serta mengintip dan menyelami keindahan bawah lautnya terbentang luas.


ps:
Total cost yang dikeluarkan adalah Rp.355.000,- (sudah termasuk kapal PP, penginapan,makan 4x + teh dan air minum, tour guide, perlengkapan snorkeling)










3 comments: